Euphoria nyampe di Amerika hampir tidak ada, saya pun bingung kenapa. Apa mungkin karena apa yang saya lihat pertama kali di Amerika bukan sesuatu yang “wah!”, atau beberapa papan sambutan telah sampai di United States of America, jadi saya merasa seperti baru sampai di daerah lain saja. Lagi pula, tempat kedatangan saya itu tidak bisa juga disebut kota wisata dengan beberapa lokasi yang menjual. Mau heboh dan gembira karena sudah nyampe juga tidak bisa terlalu megah.
Saya bingung sama badan saya. saat dibandara saya pegal sekali karena berdiri terlalu lama, saat di pesawat pegal karena sempit dan duduk yang terlalu lama juga. Waktu di bus, semuanya jadi satu. Duduk ataupun berdiri sama2 bikin pegel dan mulai nyeri. Beberapa kali saya coba untuk stretching sebelum duduk di dalam bus, tidak terlalu membantu. Saya juga coba untuk melakukannya di dalam bus, tetapi hanya membuat saya membentur segala sesuatu. Lebih baik saya duduk dengan kaki selonjor saja. Bus nya besar, dan isinya hanya saya dan beberapa teman-teman saya yang tertahan di dalam bandara, dan juga beberapa panitia, dan satu supir. Jadi setiap baris kursi hanya ditempati 2 orang.
Sepertinya hanya saya yang merasa tidak terlalu senang. Beberapa teman saya asik melihat pemandangan di luar bus yang tidak menarik; jalan tol, beberapa mobil yang lalu-lalang, beberapa hotel bandara, dan itu saja! Satu-satu nya yang menarik ya hanya jalur yang berbeda, kali ini bus yang kami tumpangi berkendara di sebelah kanan jalan. Beberapa teman lain mengobrol dengan sesama, dan ada juga yang mengobrol dengan beberapa panitia yang orang Amerika. Apakah karena benar-benar ingin tahun tentang apa yang mereka tanyakan, atau benar-benar ingin memberitahu secara tidak langsung kalau orang Indonesia itu bisa berbahasa inggris dengan lancer, atau hanya kagum karena melihat orang asing. Beberapa teman saya ada yang melakukan video blog, sekedar berbicara kalau mereka sudah sampai di Amerika. Tidak tahu apakah benar-benar akan dipublikasikan atau hanya pamer. Dan saya? saya teler. Saya memilih untuk tidur. Tidak peduli akan melewati apapun yang akan bus ini lalui.
Sempat tertidur sebentar sebelum akhirnya bus ini sampai di hotel tempat saya dan teman-teman menginap untuk orientasi selama beberapa hari. Tidak benar-benar hotel, lebih seperti asrama yang mewah dan besar. Bus masuk ke area penginapan, di bagian depan ada lapangan voli dan basket dan juga lapangan kosong. Beberapa anak terlihat sedang bermain disana. Saya menajamkan mata untuk melihat teman-teman saya yang sudah sampai duluan, dan saya melihat beberapa. Cukup senang juga melihat mereka. Mereka pasti masih sehat, bisa bermain-main disana.
Turun dari bus, menarik kopor besar saya lagi ke tempat panitia untuk daftar, diantar panitia ke dalam kamar saya untuk 3 hari kedepan. Di kamar saya sudah ada 3 kopor besar lainnya. Sudah ada beberapa anak lainnya yang nyampai duluan. Saya liat identitasnya, satu orang dari India dan yang lainnya dari Mesir. Mereka sudah naro beberapa barang mereka di kasur bawah, dan saya hanya tinggal memilih satu diantara dua kasur yang diatasnya.
Lepas sepatu, lepas jaket, lepas kacamata, dan saya berbaring di kasur. Benar-benar lega sekali. Tidak kerasa saya belom benar-benar istirahat sejak 2 hari, atau hampir 2 minggu yang lalu. Sempat kepikiran untuk langsung tidur, tidak makan, tidak mandi, tentunya setelah sholat, tapi tidak jadi. Saya putuskan untuk mandi dulu, setelah seharian penuh tidak mandi. Keluhannya bukan karena badan saya bau, tapi hanya sebagai formalitas.
Mandi memang membuat badan jadi lebih segar dikit. Setidaknya terasa sedikit ‘ringan’ walaupun badan masih pegal-pegal. Keluar kamar hotel, dan bertemu dengan teman-teman lainnya. Senang sekali bertemu mereka. Saya juga bertemu orang-orang dari beberapa Negara lainnya, yang tentu umumnya muslim. Berkenalan dengan beberapa orang, hanya untuk agar mereka mengenal saya adalah orang yang ramah.
Agenda malam itu bebas. Semua orang dipersilahkan melakukan apa aja asal masih wajar. Kebanyakan anak ada di common room. Disana ada TV besar, beberapa video games, vending machines, penukar uang kertas ke recehan, dan beberapa computer yang diisi teman-temanku yang meng-update facebook. Ruangannya cukup asik. Beberapa teman-teman ada disana, nikmatin fasilitas. Ada juga beberapa meja biliyar, tapi lebih dipenuhi anak-anak Negara lain. Jujur semua fasilitasnya tidak menggoda saya. saya lebih milih balik ke kamar, minum obat dan tidur.
Besok paginya, bangun agak telat tapi masih sempet sholat subuh. Malam sebelumnya ada anak dari Filipina yang ditambah ke kamarku. Kasurnya memang ada 4, tapi awalnya kamar itu hanya untuk kami bertiga. Tidak ada masalah sebenarnya, dia tidak mengganggu tidur saya. Pagi itu, anak Mesir yang bangun waktu ada orang yang ngetok pintu kamar dengan keras buat ngebangunin. Anak Mesir itu langsung bersiap tanpa mandi. Lalu si anak India yang mandi duluan, karena saya yakin mandi saya akan lama. Lalu saya mandi, dan memang lama. Lalu akhirnya si anak Filipina itu yang mandi terakhir. Waktu itu saya sadar si anak Filipina itu punya suatu keterbelakangan. Apakah fisik atau mental. Si anak India sering berteriak ke kamar mandi waktu si Filipina mandi agar dia bisa cepat. Tapi dia tidak dengar. Apakah dia tuli? Lalu waktu saya masuk kamar mandi lagi, wc nya tidak di siram. Apakah itu bagian dari keterbelakangannya? Si India cukup perhatian. Dia mau nungguin si Filipina mandi sampai selesai, sementara saya pergi ke teman-teman saya.
Waktu jauh berbeda dari Indonesia. Bukan maksud tentang zona waktu yang memang jauh berbeda. Tapi, saya sadar pada malam sebelumnya ketika saya baru sampai di penginapan. Waktu itu sekitar jam 8 sore, tapi langit masih seperti jam setengah 6 sore di Jakarta. Sempat berpikir itu karena pengaruh perbedaan tempat geografis. Tapi ternyata itu karena dipengaruhi musim.
Berbicara tentang musim, saat itu sedang musim panas. Dan itu buat saya mencari definisi panas bagi orang Amerika. Pagi itu dingin sekali! Angin bertiup lembut dan membuat tidak hanya saya, tapi teman-teman saya juga merasa dingin. Memang, matahari cerah dan terik sekali. Tapi itu tidak berpengaruh apa-apa. Waktu itu saya membawa jaket walaupun tidak saya pakai. Saya sudah yakin saya sakit, makanya saya bawa jaket dan masker di tas kecil saya.
good job :D
BalasHapus