Jumat, 26 November 2010

August 2010: Boring Speeches: First Week of States Part 2

Sarapan pertama di Amerika, pancake, sosis, kentang goreng. Saat itu saatnya merubah appetite saya selama setahun kedepan. Bukan tidak enak, cuma belom terbiasa. Dan itu saatnya untuk membiasakan!

Seluruh anak sempet dikumpulkan di suatu auditorium besar di tempat penginapan itu. Ada 3 row besar kursi-kursi. Paling kanan, kalau dilihat dari panggung, ada anak-anak Filipina, Thailand, Arab, Afrika Selatan. Yang di tengah sepertinya anak-anak Mesir dan Turki. Dan barisan paling kiri adalah anak-anak dari Indonesia, memenuhi hampir seluruh row, membuat itu jadi seperti barisan kursi di pertandingan sepakbola local. Kami meramaikan crowd, khas Indonesia memang, kali ini tanpa kerusuhannya.

Kami semua naik bus untuk menuju ke departemen dalam negeri Amerika Serikat. Indonesia memerlukan 3 bus untuk memberangkatkan saya dan teman-teman dan beberapa panitia yang mendampingi kami. Bus nya dingin sekali, saat itulah saya pakai jaket. Tidak peduli walau musim panas atau apa yang akan dipikirkan orang Amerika kalau melihat saya, yang penting saya nyaman. Semua American yang saya lihat mengenakan atasan lengan pendek, sepertinya memang panas bagi mereka. Panitia-panitia yang dari Indonesia tetep makai lengan panjang, karena mereka memakai batik, atau supaya mereka terlihat lebih sopan, dan saya rasa mereka dingin juga.

Sampai di departemen dalam negeri, mengantri sebentar di luar gedung untuk masuk tentunya. Menikmati cahaya matahari karena saya merasa dingin sekali. Lagi-lagi saya dan teman-teman diperiksa sebelum masuk ke dalam. Periksa passport, seperti biasa. Lalu kami diberi yang kami kalungkan, tanda kalau kami boleh masuk ke ruangan. Semua anak di dalam ruangan, kali ini Indonesia tidak berada di satu row yang sama, semua menyebar di row tengah dan row kiri.

Tidak tahu siapa yang mulai, lalu beberapa anak dari masing-masing Negara mulai bernyanyi lagu AFS mereka masing-masing. Sebenarnya hanya beberapa lagu penyemangat yang biasanya dipakai saat pertandingan olahragah, tapi di tiap Negara itu, lagunya diadaptasi, beberapa liriknya diubah, dan sering mereka nyanyikan. Saya dan teman-teman tentunya mulai bernyanyi, tidak ingin kalah dari anak-anak dari Negara lain karna memang Indonesia paling banyak disana. Lalu tiba-tiba ada beberapa anak mesir yang ngajak saya dan teman-teman nyanyi bersama mereka. Menyenangkan. Salah satu cara untuk akrab dengan Negara lain. Diplomatis.

Saya pribadi, lebih menyukai anak-anak dari mesir diantara anak-anak yang berasal dari timur tengah. Dapat dikenali dengan badan tinggi besar, kulit putih, hidung mancung, dan rambut keriting, umumnya dicukur pendek. Timur tengah memang kita selalu mikir mereka Islam semua. Apalagi ini adalah program yang umumnya untuk beragama Islam, tidak tertutup untuk yang di luar Islam. Dan sebagai Negara ‘peng-awal’ Islam, Arab juga ada disana.

Sebelum membahas Mesir, mari kita membahas Arab. Ini hanya personal saja. Sepertinya, fakta kalau Islam itu berasal dari Negara Arab membuat mereka sedikit angkuh. Teman saya bilang, mereka sombong karena saya dan teman-teman yang Islam setiap hari harus mengadap ke arah Negara mereka. Maaf sekali, saya menghadap Arab (baca: Mekah) karena Ka’bah ada disana. Kalau Ka’bah ada di Sumatra Barat tentunya saya akan menghadap kesana. Saya tidak tahu apakah orang India yang beragama Hindu akan sombong kepada orang Bali, atau orang Jepang akan sombong kepada orang Jogjakarta yang beragama Budha. Satu hal lagi, yang lebih personal. Kalau saya lihat, orang Arab itu memang terlihat angkuh, atau memperlihatkan keangkuhan? Mungkin hanya saya saja, tapi memang terlihat begitu.

Kalau Turki beda lagi. Mereka memang Negara muslim. Lihat saja mendera nya. Tapi, ada teman yang bilang kalau orang Turki hanya Islam karena orang tua mereka. Terlihat memang, dari cara berpakaian yang perempuan. Mereka lebih terlihat seperti orang eropa, dengan pakainannya, dan rambut yang beberapa adalah pirang, atau coklat. Sayang sekali, padahal Turki itu (katanya) indah sekali.

Kalau Mesir, sepertinya ini juga personal, hanya karena saya melihat salah satu orangnya sholat. Tidak penting.

Ada beberapa orang yang mengaku dari departemen dalam negeri yang berbicara, menyampaikan beberapa pidato yang membosankan tentang program ini, tentang menjadi pertukaran pelajar, dan sebagainya. Ada kata-kata yang sangat saya ingat, yang keluar dari seorang pria (cukup) tua yang juga berpidato: “Hari ini kalian hadir disini. Tahun depan, kalian akan hadir lagi dengan wajah-wajah yang lebih dewasa, yang lebih berpengalaman, yang lebih matang,”. Mudah-mudahan terwujud, mudah-mudahan tahun depan saya masih bisa hadir di tempat ini lagi, sesuai dengan yang dikatakan pria tua itu. Dan hari itu adalah awal dari petualangan saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar