Minggu, 28 November 2010

August 2010: Typically Indonesia: First Week of States Part 3

Rasanya dingin, dan setiap dingin saya pasti ngantuk. Mungkin efek dari tinggal di daerah tropis yang panas. Setiap malam kalau tidak mati lampu, pendingin ruangan pasti nyala dengan suhu kira-kira 20 derajat celcius, untuk setidaknya membuat malam itu sedikit sejuk. Sebenernya bisa juga buka jendela dan biarkan angin malam masuk, tapi pasti nyamuk juga masuk. Saya benci gatal.

Dan waktu itu saya emang ngantuk, karena dingin. Beberapa orang dewasa mendongeng dengan pidato-pidato mereka. Hanya sedikit yang saya dengarkan. Setelah liat temen saya di bangku depan yang tertidur pulas, saya akhirnya nyoba tidur juga. Saya pikir tidak akan ada yang menegur saya karena tertidur saat mereka bernyanyi, itu bukan pidato kepresidenan dan saya bukan gubernur yang harus mendengarkan pidatonya. Tidak sempet lama emang, tapi cukuplah. Semua anak akhirnya disuruh pergi lagi, menuju bus masing-masing.

Masuk bus. Kakak panitia bilang saya dan teman-teman akan dibawa ke kedutaan besar Republik Indonesia, untuk disambut dengan beberapa pria dewasa disana. Sepertinya acara tahunan bagi para pelajar pertukaran di program ini seperti saya dan teman-teman. Cukup melihat-lihat jalanan di ibukota Amerika Serikat sejenak sebelom sampai di gedung kedutaannya. Bendera Merah Putih dan tulisan “Kedutaan Besar Republik Indonesia” menjadi penanda gedungnya. Gedung-gedung tetangganya juga kedutaan besar dari Negara-negara lain, jadi jalan itu jalan yang cukup ‘penting’.

Di pintu depan ada patung wayang, tapi saya tidak tahu siapa tokohnya. Masuk, di ruang utama ada patung Garuda Pancasila yang sangat besar. Sempat berfoto-foto disana. Tapi saya tidak dapet foto sendiri. Tidak apa-apa, tidak penting, mudah-mudahan ada kesempatan lain. Masuk lebih dalam, saya dan teman-teman dibawa masuk ke ruangan dengan lagi-lagi ada beberapa kursi disana. Duduk di tempat yang random, lalu beberapa saat ada pria dewasa yang berbicara di depan saya dan teman-teman. Dia orang Indonesia, dengan potongan rambut khas pria Indonesia dan badan kurus tinggi yang juga khas Indonesia.

Salah satu teman saya ditunjuk buat menyampaikan beberapa kata sambutan juga sebelum sang pria dewasa bersyair. Teman saya ditunjuk sesaat setelah saya dan teman-teman sampai di gedung kedutaan besar. Ditunjuk oleh kakak panitia. Itu semua seakan-akan terlihat seperti sudah diatur sebelumnya, dipersiapkan secara matang siapa yang akan berbicara pada hari itu. Lagi-lagi, khas Indonesia.

Pidato sambutan kedua pihak selesai. Memang dibilang kalau saya dan teman-teman akan dijamu oleh masakan khas Indonesia, sebelum pergi ke tempat masing-masing dengan kemungkinan kecil untuk makan makanan khas Indonesia lagi. Sempet berpikir, mungkin ini gagasan dari salah satu pendahulu saya dan teman-teman, yang selama masa pertukarannya tidak pernah makan masakan Indonesia. Dia lalu merasa kasihan kepada diri sendiri yang tidak bisa masak, jadi dia mengusulkan untuk menjamu para pelajar sebelum bertugas. Ini semua hanya imajinasi saya saja.

Sejak pergi dari gedung mentri dalam negeri, atau mungkin jauh sebelumnya, saya batuk-batuk dengan cukup sering. Sebenarnya memang jauh sebelumnya, sejak dari Frankfurt saya sudah mulai batuk-batuk kepada masker hijau yang waktu disana dan waktu itu saya pakai. Memang, mungkin tidak pantas lagi buat dipakai, tapi hanya itu yang saya punya. Batuk nya cukup mengganggu. Mengganggu saya dan orang-orang disekitar saya tentunya. Rasanya emang pengen menahan seluruh batuk yang akan keluar itu, lalu saya jadi meledakkan paru-paru saya. Tidak hanya saya, beberapa teman saya juga. Tidak hanya batuk dan tidak semua yang separah saya, dan ada juga yang lebih parah dari saya.

Akhirnya saya dan teman-teman dijamu. Saya dan teman-teman disuruh pergi ke ruangan lain, tempat beberapa masakan khas Indonesia tersaji, tersusun mulai dari yang utama sampai yang hanya melengkapi, untuk memudahkan saya dan teman-teman mengambil makanan-makanan itu. Tidak sabar, tapi sebenernya tidak terlalu lapar. Tapi, ini saat terakhir untuk bisa makan makanan khas Indonesia, jadi itu membuatnya lebih banyak berharga.

Jumat, 26 November 2010

August 2010: Boring Speeches: First Week of States Part 2

Sarapan pertama di Amerika, pancake, sosis, kentang goreng. Saat itu saatnya merubah appetite saya selama setahun kedepan. Bukan tidak enak, cuma belom terbiasa. Dan itu saatnya untuk membiasakan!

Seluruh anak sempet dikumpulkan di suatu auditorium besar di tempat penginapan itu. Ada 3 row besar kursi-kursi. Paling kanan, kalau dilihat dari panggung, ada anak-anak Filipina, Thailand, Arab, Afrika Selatan. Yang di tengah sepertinya anak-anak Mesir dan Turki. Dan barisan paling kiri adalah anak-anak dari Indonesia, memenuhi hampir seluruh row, membuat itu jadi seperti barisan kursi di pertandingan sepakbola local. Kami meramaikan crowd, khas Indonesia memang, kali ini tanpa kerusuhannya.

Kami semua naik bus untuk menuju ke departemen dalam negeri Amerika Serikat. Indonesia memerlukan 3 bus untuk memberangkatkan saya dan teman-teman dan beberapa panitia yang mendampingi kami. Bus nya dingin sekali, saat itulah saya pakai jaket. Tidak peduli walau musim panas atau apa yang akan dipikirkan orang Amerika kalau melihat saya, yang penting saya nyaman. Semua American yang saya lihat mengenakan atasan lengan pendek, sepertinya memang panas bagi mereka. Panitia-panitia yang dari Indonesia tetep makai lengan panjang, karena mereka memakai batik, atau supaya mereka terlihat lebih sopan, dan saya rasa mereka dingin juga.

Sampai di departemen dalam negeri, mengantri sebentar di luar gedung untuk masuk tentunya. Menikmati cahaya matahari karena saya merasa dingin sekali. Lagi-lagi saya dan teman-teman diperiksa sebelum masuk ke dalam. Periksa passport, seperti biasa. Lalu kami diberi yang kami kalungkan, tanda kalau kami boleh masuk ke ruangan. Semua anak di dalam ruangan, kali ini Indonesia tidak berada di satu row yang sama, semua menyebar di row tengah dan row kiri.

Tidak tahu siapa yang mulai, lalu beberapa anak dari masing-masing Negara mulai bernyanyi lagu AFS mereka masing-masing. Sebenarnya hanya beberapa lagu penyemangat yang biasanya dipakai saat pertandingan olahragah, tapi di tiap Negara itu, lagunya diadaptasi, beberapa liriknya diubah, dan sering mereka nyanyikan. Saya dan teman-teman tentunya mulai bernyanyi, tidak ingin kalah dari anak-anak dari Negara lain karna memang Indonesia paling banyak disana. Lalu tiba-tiba ada beberapa anak mesir yang ngajak saya dan teman-teman nyanyi bersama mereka. Menyenangkan. Salah satu cara untuk akrab dengan Negara lain. Diplomatis.

Saya pribadi, lebih menyukai anak-anak dari mesir diantara anak-anak yang berasal dari timur tengah. Dapat dikenali dengan badan tinggi besar, kulit putih, hidung mancung, dan rambut keriting, umumnya dicukur pendek. Timur tengah memang kita selalu mikir mereka Islam semua. Apalagi ini adalah program yang umumnya untuk beragama Islam, tidak tertutup untuk yang di luar Islam. Dan sebagai Negara ‘peng-awal’ Islam, Arab juga ada disana.

Sebelum membahas Mesir, mari kita membahas Arab. Ini hanya personal saja. Sepertinya, fakta kalau Islam itu berasal dari Negara Arab membuat mereka sedikit angkuh. Teman saya bilang, mereka sombong karena saya dan teman-teman yang Islam setiap hari harus mengadap ke arah Negara mereka. Maaf sekali, saya menghadap Arab (baca: Mekah) karena Ka’bah ada disana. Kalau Ka’bah ada di Sumatra Barat tentunya saya akan menghadap kesana. Saya tidak tahu apakah orang India yang beragama Hindu akan sombong kepada orang Bali, atau orang Jepang akan sombong kepada orang Jogjakarta yang beragama Budha. Satu hal lagi, yang lebih personal. Kalau saya lihat, orang Arab itu memang terlihat angkuh, atau memperlihatkan keangkuhan? Mungkin hanya saya saja, tapi memang terlihat begitu.

Kalau Turki beda lagi. Mereka memang Negara muslim. Lihat saja mendera nya. Tapi, ada teman yang bilang kalau orang Turki hanya Islam karena orang tua mereka. Terlihat memang, dari cara berpakaian yang perempuan. Mereka lebih terlihat seperti orang eropa, dengan pakainannya, dan rambut yang beberapa adalah pirang, atau coklat. Sayang sekali, padahal Turki itu (katanya) indah sekali.

Kalau Mesir, sepertinya ini juga personal, hanya karena saya melihat salah satu orangnya sholat. Tidak penting.

Ada beberapa orang yang mengaku dari departemen dalam negeri yang berbicara, menyampaikan beberapa pidato yang membosankan tentang program ini, tentang menjadi pertukaran pelajar, dan sebagainya. Ada kata-kata yang sangat saya ingat, yang keluar dari seorang pria (cukup) tua yang juga berpidato: “Hari ini kalian hadir disini. Tahun depan, kalian akan hadir lagi dengan wajah-wajah yang lebih dewasa, yang lebih berpengalaman, yang lebih matang,”. Mudah-mudahan terwujud, mudah-mudahan tahun depan saya masih bisa hadir di tempat ini lagi, sesuai dengan yang dikatakan pria tua itu. Dan hari itu adalah awal dari petualangan saya.

Rabu, 24 November 2010

August 2010: Freezing Summer: First Week of States Part 1

Euphoria nyampe di Amerika hampir tidak ada, saya pun bingung kenapa. Apa mungkin karena apa yang saya lihat pertama kali di Amerika bukan sesuatu yang “wah!”, atau beberapa papan sambutan telah sampai di United States of America, jadi saya merasa seperti baru sampai di daerah lain saja. Lagi pula, tempat kedatangan saya itu tidak bisa juga disebut kota wisata dengan beberapa lokasi yang menjual. Mau heboh dan gembira karena sudah nyampe juga tidak bisa terlalu megah.

Saya bingung sama badan saya. saat dibandara saya pegal sekali karena berdiri terlalu lama, saat di pesawat pegal karena sempit dan duduk yang terlalu lama juga. Waktu di bus, semuanya jadi satu. Duduk ataupun berdiri sama2 bikin pegel dan mulai nyeri. Beberapa kali saya coba untuk stretching sebelum duduk di dalam bus, tidak terlalu membantu. Saya juga coba untuk melakukannya di dalam bus, tetapi hanya membuat saya membentur segala sesuatu. Lebih baik saya duduk dengan kaki selonjor saja. Bus nya besar, dan isinya hanya saya dan beberapa teman-teman saya yang tertahan di dalam bandara, dan juga beberapa panitia, dan satu supir. Jadi setiap baris kursi hanya ditempati 2 orang.

Sepertinya hanya saya yang merasa tidak terlalu senang. Beberapa teman saya asik melihat pemandangan di luar bus yang tidak menarik; jalan tol, beberapa mobil yang lalu-lalang, beberapa hotel bandara, dan itu saja! Satu-satu nya yang menarik ya hanya jalur yang berbeda, kali ini bus yang kami tumpangi berkendara di sebelah kanan jalan. Beberapa teman lain mengobrol dengan sesama, dan ada juga yang mengobrol dengan beberapa panitia yang orang Amerika. Apakah karena benar-benar ingin tahun tentang apa yang mereka tanyakan, atau benar-benar ingin memberitahu secara tidak langsung kalau orang Indonesia itu bisa berbahasa inggris dengan lancer, atau hanya kagum karena melihat orang asing. Beberapa teman saya ada yang melakukan video blog, sekedar berbicara kalau mereka sudah sampai di Amerika. Tidak tahu apakah benar-benar akan dipublikasikan atau hanya pamer. Dan saya? saya teler. Saya memilih untuk tidur. Tidak peduli akan melewati apapun yang akan bus ini lalui.

Sempat tertidur sebentar sebelum akhirnya bus ini sampai di hotel tempat saya dan teman-teman menginap untuk orientasi selama beberapa hari. Tidak benar-benar hotel, lebih seperti asrama yang mewah dan besar. Bus masuk ke area penginapan, di bagian depan ada lapangan voli dan basket dan juga lapangan kosong. Beberapa anak terlihat sedang bermain disana. Saya menajamkan mata untuk melihat teman-teman saya yang sudah sampai duluan, dan saya melihat beberapa. Cukup senang juga melihat mereka. Mereka pasti masih sehat, bisa bermain-main disana.

Turun dari bus, menarik kopor besar saya lagi ke tempat panitia untuk daftar, diantar panitia ke dalam kamar saya untuk 3 hari kedepan. Di kamar saya sudah ada 3 kopor besar lainnya. Sudah ada beberapa anak lainnya yang nyampai duluan. Saya liat identitasnya, satu orang dari India dan yang lainnya dari Mesir. Mereka sudah naro beberapa barang mereka di kasur bawah, dan saya hanya tinggal memilih satu diantara dua kasur yang diatasnya.

Lepas sepatu, lepas jaket, lepas kacamata, dan saya berbaring di kasur. Benar-benar lega sekali. Tidak kerasa saya belom benar-benar istirahat sejak 2 hari, atau hampir 2 minggu yang lalu. Sempat kepikiran untuk langsung tidur, tidak makan, tidak mandi, tentunya setelah sholat, tapi tidak jadi. Saya putuskan untuk mandi dulu, setelah seharian penuh tidak mandi. Keluhannya bukan karena badan saya bau, tapi hanya sebagai formalitas.

Mandi memang membuat badan jadi lebih segar dikit. Setidaknya terasa sedikit ‘ringan’ walaupun badan masih pegal-pegal. Keluar kamar hotel, dan bertemu dengan teman-teman lainnya. Senang sekali bertemu mereka. Saya juga bertemu orang-orang dari beberapa Negara lainnya, yang tentu umumnya muslim. Berkenalan dengan beberapa orang, hanya untuk agar mereka mengenal saya adalah orang yang ramah.

Agenda malam itu bebas. Semua orang dipersilahkan melakukan apa aja asal masih wajar. Kebanyakan anak ada di common room. Disana ada TV besar, beberapa video games, vending machines, penukar uang kertas ke recehan, dan beberapa computer yang diisi teman-temanku yang meng-update facebook. Ruangannya cukup asik. Beberapa teman-teman ada disana, nikmatin fasilitas. Ada juga beberapa meja biliyar, tapi lebih dipenuhi anak-anak Negara lain. Jujur semua fasilitasnya tidak menggoda saya. saya lebih milih balik ke kamar, minum obat dan tidur.

Besok paginya, bangun agak telat tapi masih sempet sholat subuh. Malam sebelumnya ada anak dari Filipina yang ditambah ke kamarku. Kasurnya memang ada 4, tapi awalnya kamar itu hanya untuk kami bertiga. Tidak ada masalah sebenarnya, dia tidak mengganggu tidur saya. Pagi itu, anak Mesir yang bangun waktu ada orang yang ngetok pintu kamar dengan keras buat ngebangunin. Anak Mesir itu langsung bersiap tanpa mandi. Lalu si anak India yang mandi duluan, karena saya yakin mandi saya akan lama. Lalu saya mandi, dan memang lama. Lalu akhirnya si anak Filipina itu yang mandi terakhir. Waktu itu saya sadar si anak Filipina itu punya suatu keterbelakangan. Apakah fisik atau mental. Si anak India sering berteriak ke kamar mandi waktu si Filipina mandi agar dia bisa cepat. Tapi dia tidak dengar. Apakah dia tuli? Lalu waktu saya masuk kamar mandi lagi, wc nya tidak di siram. Apakah itu bagian dari keterbelakangannya? Si India cukup perhatian. Dia mau nungguin si Filipina mandi sampai selesai, sementara saya pergi ke teman-teman saya.

Waktu jauh berbeda dari Indonesia. Bukan maksud tentang zona waktu yang memang jauh berbeda. Tapi, saya sadar pada malam sebelumnya ketika saya baru sampai di penginapan. Waktu itu sekitar jam 8 sore, tapi langit masih seperti jam setengah 6 sore di Jakarta. Sempat berpikir itu karena pengaruh perbedaan tempat geografis. Tapi ternyata itu karena dipengaruhi musim.

Berbicara tentang musim, saat itu sedang musim panas. Dan itu buat saya mencari definisi panas bagi orang Amerika. Pagi itu dingin sekali! Angin bertiup lembut dan membuat tidak hanya saya, tapi teman-teman saya juga merasa dingin. Memang, matahari cerah dan terik sekali. Tapi itu tidak berpengaruh apa-apa. Waktu itu saya membawa jaket walaupun tidak saya pakai. Saya sudah yakin saya sakit, makanya saya bawa jaket dan masker di tas kecil saya.