Rabu, 27 Oktober 2010

August 2010: The Different Lane

Rasanya senang, bahagia, bangga, lega, dan pegel. Sampai di bandara Dulles International. Sepertinya semua yang saya dan teman-teman tunggu-tunggu selama hamper dua tahun terkabulkan juga.

Turun pesawat, rombongan menuju ke tempat pengambilan bagasi. Tugas terakhir sebelum sampai di tempat penginapan selama 3 hari di Washington D.C. untuk mengikuti orientasi bersama anak-anak seprogram dari Negara-negara lain.

Terdengar simple, dan mudah sekali bukan. Hanya tinggal jalan beberapa langkah, yah, mungkin beberapa security check, not bad, dan kembali mengangkat koper yang berat itu ke bus, dan bisa santai lagi sampai akhirnya sampai di tempat penginapan. Saya sudah membayangkan seperti itu. Kedua kaki saya bukan main pegalnya.

Tidak tahu juga kenapa bisa pegal seperti ini. Padahal selama penerbangan dari Frankfurt ke Washington saya duduk manis saja. Mungkin, karena kursinya cukup sempit. Mungkin. Satu lagi, karena sebelum masuk pesawat saya sempat berdiri cukup lama untuk mengantri check in pesawat United Airlines yang bukan main dinginnya. Mungkin juga karena dingin, tapi itu lebih kepada hidung saya yang mulai ‘berlari’. Sepertinya waktu itu saya masih punya beberapa tissue bungkus untuk menyelamatkannya.

Sejak saat itulah saya mulai merasa sangat tidak enak, dan sangat tidak enak juga perasaan saya akan hal-hal yang akan terjadi. Tapi, saya tidak terlalu memikirkannya. Saya bawa senang saja dengan teman-teman saya.

Saya dan teman-teman masuk ke bagian “Non US Citizen” untuk melakukan security check up. Sepertinya mulai saat itu saya mulai merasa tidak enak.

Antriannya bukan main panjangnya! Dan berjalannya juga bukan cepat. Dan kaki saya semakin pegal, seperti membunuh saya dari dalam. Antrian itu dipenuhi dengan saya dan teman-teman yang berseragam kaos kuning dengan tulisan “Yes, I’m from INDONESIA”. Kami juga menemukan beberapa orang yang terlihat seperti saya dan teman-teman dengan kaos hijau dan tulisan “Thailand”. Mereka pasti yang dari Thailand. Sempat berkenalan dengan beberapa dari mereka. Mencoba terlihat dan bersikap ramah kepada orang asing, seperti yang sering dibangga-banggakan rakyat Negaraku.

Akhirnya saya sampai juga di counter untuk diperiksa petugasnya. Saya benar-benar capek sekali waktu itu. Saya sudah tidak bisa menyandan tas ransel saya, sepanjang antrian hanya saya dorong-dorong dengan kaki saya. Walaupun saya sempat beberapa kali menyandangnya kembali. Saya pengen sekali untuk duduk! Tidak tahu waktu itu apakah akan membuat kaki saya terasa nyaman, tapi setidaknya itu lebih baik dari berdiri dan menunggu.

Akhirnya tiba giliran saya. petugas bandaranya memeriksa passport, dan beberapa tiket pesawat saya. Dia menandakan sesuatu di tiketnya, dan bukannya selanjutnya menyuruh saya keluar dan menuju tempat pengambilan koper, dia menyuruh saya untuk pergi ke suatu ruangan untuk menunggu lebih lama lagi! Saya pergi kesana, dan hampir semua teman-teman saya yang laki-laki sudah berada disana. Ada juga beberapa teman saya yang perempuan. Orang-orang lain yang menunggu di ruang itu bisa dipisahkan menurut fisiknya. Mereka terlihat seperti orang Arab, India, Pakistan, dan sekitarnya. Saya yakin, ini masih berhubungan dengan terorisme.

Saya tidak tahu, apakah memang sudah menjadi tradisi baru, setiap warga Negara muslim dating berkunjung ke Amerika, akan dipisahkan seperti ini atau tidak. Sejauh ini yang saya lihat ada di ruang tunggu itu memang terlihat seperti orang muslim. Beberapa wanita yang ada juga mengenakan jilbab yang besar, panjang, dan berwarna hitam. Mereka terlihat biasa saja. Mungkin sudah sering pulang pergi ke Amerika, jadi sudah sering pula diperlakukan seperti ini, dianggap teroris. Saya pikir waktu itu, mungkin memang tidak terlalu buruk juga. Saya menunggu saja dengan sabar. Teman-teman saya yang lain juga disana, jadi setidaknya saya tidak merasa sendiri. Dan satu lagi, setidaknya saya bisa duduk di ruang tunggu itu. Meluruskan kaki, dan saya tidak sangka bisa tertidur di ruangan itu.

Saya terbangun. Sepertinya karena pendingin ruangan yang disetel sangat rendah. Hidung saya sepertinya semakin parah, semakin jauh dia ‘berlari’. Berapa teman saya sudah tidak ada, sepertinya mereka sudah bisa keluar. Sebelum saya tertidur memang sudah ada juga yang keluar. Orang-orang lainnya juga sudah semakin berkurang. Tapi ada juga beberapa yang baru datang.

Dingin sekali! Apakah sepanas itu keadaan diluar, sampai mereka menyetel pendinginnya sampai begitu rendah. Saya semakin merasa tidak enak. Dan waktu itu, saya merasa duduk bukanlah solusi menghilangkan cape, waktu itu saya seperti bosan untuk duduk.

Ketika akhirnya jumlah orang di ruang tunggu itu semakin sedikit, kurang dari sepuluh, dan beberapa adalah teman-teman saya, akhirnya petugasnya memanggil kami semua untuk akhirnya diperiksa untuk segera keluar. Saya memperhatikan, petugasnya sepertinya orang muslim juga. Dilihat dari fisiknya yang berhidung mancung dan berambut keriting, dan juga dari logat berbicaranya yang sangat ‘tidak Amerika’.

Kenapa mereka mau melakukan itu? Seperti, orang yang sama sekali tidak tahu tentang keluargamu dan hanya menaruh prasangka buruk kepadanya, menyuruhmu untuk menyerang keluargamu sendiri. Kata lain: diperalat. Apa mereka tidak bisa sedikit membela, untuk tidak melakukan pemisahan antara warga dari Negara muslim atau non-muslim. Atau mereka sudah benar-benar menjadi orang lain, dan menganggap saudara-saudara mereka dari Negara lain sebagai teroris.

Giliran saya untuk diperiksa kedua kalinya. Kali ini lebih detil! Petugasnya sampai menanyakan tentang alamat saya. saya pikir waktu itu, apakah mereka akan mengirim orang untuk memeriksa ke rumah saya tentang ‘kebenaran’ saya? Terdengar gila, tetapi memang sebetulnya untuk apa mereka memerlukan alamat?

Petugasnya juga memberikan sebuah buku (bisa disebut buku), tentang peraturan immigrant yang datang ke Amerika. Dia menandakan sebuah paragraph yang mendeskripsikan keadaan saya dan teman-teman, dan beberapa orang lainnya. Dia bilang, saya harus diperiksa seperti itu lagi waktu mau meninggalkan Amerika: setahun lagi!

Counter disebelah saya, ternyata petugasnya orang muslim! Saya bisa tahu kali ini, karena dia berkata “Assalamualaikum” kepada orang yang akan dia periksa yang juga membalas salamnya dengan “Assalamualaikum”. Saya pikir, mungkin tidak semua muslim menjawab salam dengan “Waalaikumsalam”. Tidak tahu juga.

Akhirnya sang petugas memperbolehkan saya untuk pergi ke tempat pengambilan koper. Betapa senangnya waktu itu, akhirnya saya bisa meninggalkan tempat ini, dan tidak perlu memikirkan apa-apa lagi yang berhubungan dengan pemeriksaan itu sampai tahun depan ketika saya akan pulang.

Saya mendapatkan koper saya. Koper saya dan teman-teman sempat dijaga oleh Jim, orang Amerika yang menemani kami dari awal perjalanan kami. Baik sekali dia. Dia bilang, kalau tidak dijaga mungkin kopernya akan dibongkar oleh petugas-petugasnya. Untunglah. Tapi sialnya, saya tidak bisa menggunakan penarik kopernya karena macet. Tidak peduli, saya dan teman saya yang selesai bersamaan keluar dari tempat itu.

Kami disambut oleh beberapa panitia YES (Youth Exchange and Study) yang akan bekerja selama kami tinggal di Washington. Ada panitia yang dari Indonesia, lega juga masih bisa berbahasa Indonesia, walaupun sebenarnya memang bisa sewaktu berbicara dengan teman-teman. Saya dan teman-teman yang keluar lebih dulu menunggu beberapa saat lagi untuk menunggu teman yang belum selesai diperiksa. Hanya sedikit teman-teman yang tinggal di bandara. Kebanyakan sudah pergi ke tempat penginapan.

Ketika teman-teman saya sudah selesai diperiksa semua, saya dan teman-teman dan beberapa panitia yang menunggu kami pergi ke tempat penginapan dengan bus. Saya capek sekali, sampai lupa kalau sekarang kendaraan sudah mengemudi di jalur yang berbeda.

Senin, 11 Oktober 2010

August 2010: Sausage City at a Glance

8 Agustus 2010. Turun pesawat, pagi buta. Sekitar jam 5 waktu Frankfurt. Baru kali ini sampai di bandara di waktu yang sepagi ini. Kalau berangkat sepagi ini, sepertinya sudah beberapa kali. Tapi, walaupun pagi-pagi seperti ini, aktifitas di bandara tetap berjalan. Bukan maksud mau bilang ‘tidak ada orang yang melaksanakan Sholat Subuh berjamaah di masjid dan dilanjutkan dengan tadarus’, tapi ini bandara Internasional. Saya dan teman-teman contohnya, tidak mungkin bandara ini mengatakan, karena masih pagi jadi mereka belum buka dan kami tidak bisa mendarat. Tidak tahu juga, apakah yang seperti ini ada di seluruh dunia. Ya, saya belum pernah mendarat di bandara manapun di Indonesia pada waktu sepagi itu.

Mendarat. Dengan tas yang berat di bahu, beberapa kali meregangkan badan. Cukup pegal, semalaman duduk di pesawat, yang dingin, yang tidak bisa bergerak banyak. Dan saya pun tidak pergi ke toilet selama perjalanan di pesawat. Entah kenapa itu membuat saya meresa merepotkan orang-orang di sekitar saya.

Dan, ternyata sekali lagi langit di eropa tidak berbeda dengan di Indonesia, atau Singapura, walaupun saya hanya sempat melihat malam di Singapura. Beberapa orang yang sudah sering ke luar negeri bilang, langit di luar negeri itu lebih cerah, lebih tidak berpolusi, lebih putih awannya dibanding langit Indonesia. Tapi, sejauh yang dilihat di Frankfurt, sepertinya tidak ada bedanya. Sekali lagi, ini pertama kali saya ke luar negeri, saya menganggap hal seperti ini wajar.

Turun dari pesawat, jalan sedikit untuk bisa dekat ke terminal keberangkatan selanjutnya. Jalannya cukup jauh, karena sekali lagi, bandara ini besar sekali. Capek juga walaupun tidak narik-narik koper besar saya. Sekali kami naik (sepertinya) kereta, untuk nyebrang ke terminalnya.

Saya dan teman-teman membuat antrian panjang ketika sampai di terminal tujuan untuk security check up. Antrian 103 anak Indonesia yang bersemangat. Antriannya memang panjang sekali, dan tetap berjalan lambat walaupun gerbang security nya sudah dibuka beberapa. Kami harus melepaskan jaket, tas, dan alat-alat elektronik, sepertinya itu yang membuat lama. Singkat cerita, akhirnya sampai di terminal tujuan, dan sedikit lagi berjalan ke pintu gerbang keberangkatannya. Dan itulah tempat saya dan teman-teman untuk beberapa jam kemudian.

Dari awal berangkat dari bandara Soekarno-Hatta, saya dan teman-teman dibagi dalam 10 grup, jadi lebih mudah untuk berkumpul dan berjalan bersama. Saya dapat grup 10, tidak ada buruknya, hanya saja menjadi buntut. Tapi benar, saya tetap saja enjoy, toh jadi grup terakhir tidak membuat saya tidak sampai di tempat tujuan saya, dimana pun itu.

Sampai di bandara pagi-pagi. Cukup lapar, saya dan beberapa teman memutuskan untuk mencari tempat makan. Saya pikir, ini akan menjadi pertama kali saya membelanjakan dollar, ataupun mungkin saya harus menukarkan ke Euro terlebih dahulu. Ada beberapa alat pencari took-toko di bandara, termasuk tempat makan. Untuk berjaga-jaga (makanan halal), kami mencari McDonald’s, tapi ternyata tempatnya jauh, di area luar bandara. Jadi saya dan teman-teman melupakan itu.

Ada beberapa kios yang menjual kue-kue, roti, dan minuman di tengah-tengah lorong terminal. Saya putuskan waktu itu untuk beli dari situ saja. Beberapa alumni mengatakan, untuk jangan men-kurs segala sesuatu yang kita akan beli, atau kita tidak akan beli apa-apa. Jadi berarti, kita hanya harus memperhatikan uang di dompet saja. Benar sekali, saya kurang lebih mengeluarkan Rp 100.00,00 untuk turkey sandwich dan sebotol coca cola. Saya memilih turkey, karena pilihan lainnya (kalau tidak salah) adalah bacon, dan coca cola, karena saya pikir tidak ada kandungan ‘aneh’ dalam coca cola, setidaknya itu yang saya percaya. Oh, dan untungnya kios nya menerima dollar, jadi saya tidak perlu repot-repot menukarkan uang segala. Cukup kenyang, sampai masuk ke pesawat, saya tidak membeli makanan lagi, selain karena ingin menyimpan uang.

Selain makan, bandara itu jadi tempat istirahat saya dan teman-teman. Pilihannya adalah jalan-jalan melihat-lihat terminal, shopping souvenir (tidak tahu untuk siapa), minum dari fountain, foto-foto, tidur, ada juga yang memakai computer umum hanya untuk melihat email atau facebook, atau bahkan twitter walau harus bayar jauh lebih mahal, ada juga yang menelpon teman, keluarga, pacar.

Saya masih membawa handphone saya, dan masih aktif sampai saat itu. Beberapa kali masih sempat mengirim pesan singkat sekedar untuk memberi kabar keluarga saya. Sisa pulsa saya masih cukup banyak, sampai ada orang tua teman saya yang menelpon ke handphone saya, hanya untuk mendengar suara anak bayi manisnya, dan membuat sisa pulsa saya jauh terkuras yang disebabkan oleh roaming international. Tidak aneh memang untuk menanyakan kabar anak manis tercinta nya yang sedang ada di negeri orang. Tapi istilah ‘roaming’ sepertinya belum bisa masuk kedalam perbendaharaan kata nya.

Kembali, saya dan teman-teman harus mengantri, saatnya untuk meninggalkan Kota Sosis, sebuah nama yang saya berikan karena nama kota ini sering muncul di kemasan-kemasan sosis. Walaupun hanya sekitar 5 jam, tapi cukup menikmati juga. Kali ini saya dan teman-teman masuk ke pesawat kedua, dan untuk penerbangan ketiga. Penerbangan yang sudah saya dan teman-teman tunggu, yang sudah saya dan teman-teman usahakan, dan banyak yang terkorbankan selama lebih dari satu tahun belakangan. Penerbangan penuh penantian, yang akhirnya pada waktu itu akan segera terwujudkan. Penerbangan yang membuat saya dan teman-teman bisa mengatakan “kita pasti berangkat”.

Minggu, 10 Oktober 2010

August 2010: The Flight to Sausage City

Sabtu, tanggal 7. Sekitar jam 6 magrib , menuju jam 7 malam. Hari udah gelap, kayak langit Jakarta biasanya. Saya udah duduk di kursi di pesawat. Agak kurang suka karena posisinya ga di deket jendela atau setidaknya di deket lorongnya. Ini tepat sekali di tengah, diapit teman-teman seperjuangan. Tidak apalah, tujuan pertama yaitu Singapura, which is 2 hours trip. Setidaknya masih ada waktu ‘istirahat’ sebentar.

Hari udah gelap, dan saya udah capek. Walaupun niat dalam hati untuk ga tidur selama perjalanan, tapi ternyata kalah juga. Tidak ingat banyak, apakah saya sempat makan malam, tapi yang pasti saya tertidur dan terbangun pas semua orang udah siap-siap mau keluar pesawat. Ternyata udah sampe Singapura.

Ini pertama kali saya sampe di luar negeri. Saya lihat langitnya, ternyata gelap. Saya coba bernafas dalam-dalam, ternyata masih bisa. Saya coba berjalan, ternyata masih bisa. Tidak ada yang beda dengan luar negeri. Sama saja dengan Ibu Pertiwi, tidak ada yang beda. Tapi kemudian saya menemukan perbedaan yang sangat kontras.

Saya dan teman-teman keluar pesawat, menuju ruang tunggu berikutnya. Kami hanya transit sebentar di Singapura, padahal saya ingin jalan-jalan melihat-lihat Changi International Airport yang kata orang-orang bandaranya sangat bagus. Tidak apalah, saya yakin masih ada kesempatan lain untuk berkunjung kembali di tahun-tahun berikutnya. Lagi pula, berjalan-jalan beresiko untuk menghabiskan uang. Saya tidak punya Dollar Singapura, tapi bisa saja saya belanjakan Dollar US saya, atau malah beberapa lembar Rupiah yang saya tidak tukar karena tidak akan tertukar dengan uang yang besar, (atau hanya saya yang tidak akan puas) jadi baik juga untuk tetap mengantri masuk ke ruang tunggu, dan berfoto2 sedikit bersama teman-teman.

Sambil mengantri, saya sempet masuk ke Toilet. Tidak bagus bukan untuk menahan untuk buang air? Saya waktu itu masih melihat-lihat keadaan sekitar, mencari apa yang sangat berbeda dengan yang ada di Tanah Air. Saya menemukan beberapa Water Fountain, tapi itu tidak jauh berbeda. Beberapa tempat saya yakin sudah punya Water Fountain seperti itu. Dan tentang toiletnya. Pispotnya tidak jauh berbeda, hanya saja menggunaka sensor untuk flush nya, beberapa tempat di Jakarta sudah menggunakan itu bukan? Yang cukup berbeda adalah ada pispot yang sama, tetapi ukurannya jauh lebih kecil dengan posisi yang lebih rendah pula, dilengkapi dengan beberapa tulisan (mungkin) mandarin dan symbol yang mengartikan sesuatu, tetap saja tidak bisa saya mengerti.

Ini dia yang beda. Waktu mau keluar toilet, saya coba untuk melihat ke bilik untuk buang air besar. Saya seharusnya sudah siap dan tidak asing lagi untuk ini. Tapi mulai di Singapura, mereka sudah menggunakan tisu untuk membersihkan.

Saya coba mengaitkan, antara alat yang dipakai untuk membersihkan itu, dengan masyarakat Negara nya. Saya sempat berpikir, apakah karena Indonesia adalah Negara dengan mayoritas Muslim, yang tentunya menggunakan air dengan banyak di kamar mandi, jadi yang digunakan adalah air. Dan juga Singapura, yang (saya rasa) bukan Negara Muslim, jadi tidak menggunakan air, tetapi tisu. Saya juga coba mengaitkan ini dengan modernitas. Tapi berarti Indonesia bukanlah Negara yang modern? Tetapi, buat apa terlalu dipikirkan, cepat atau lambat saya juga melakukannya dengan tisu.

Beberapa lama di ruang tunggu, saya dan teman-teman kembali masuk ke pesawat yang sama, LH779, dan juga kursi yang sama. Saya sudah tidak terlalu memikirkan lagi tentang tempat duduk. Dua jam pertama, saya cukup nyaman duduk di tengah. Kalau di jendela, saya tidak punya sesuatu untuk dilihat, karena hari sudah malam.

Pesawat menyediakan selimut, yang saya piker saya perlukan, dan headset, untuk mendengarkan beberapa channel radio(?) yang disediakan pesawat. Saya lebih memilih untuk mendengarkan iPod baru saya daripada channel-channel itu, karena beberapa beberapa channel nya memutar lagu-lagu (untuk orang) tua, dan lagu-lagu pop/rock nya juga tidak terlalu bagus. Dan lagi, beberapa kali saya (dan kebanyakan) saya tertidur.

Pesawat menyediakan beberapa menu makanan yang enak, dan setiap kali makan, biasanya ada pilihan. Saya selalu memilih ayam, atau yang ‘tidak daging’, takut apabila masakannya mengandung daging haram. Walaupun menu ayam atau yang lainnya belum terlepas dari sesuatu yang haram dalam Islam, seperti alcohol dan yang lainnya. Tapi, tidak tahu semuanya terkadang baik. Kalau saya tahu apa kandungan makanannya secara detil, mungkin tidak akan saya makan dan saya kelaparan selama kurang lebih 7 jam.

Saya sempat tertidur cukup lama di pesawat sebelum akhirnya (tentunya) terbangun. Saya tidak tahu jam berapa waktu itu. Tetapi saya cukup yakin waktu itu adalah sekitar waktu subuh. Saya coba melihat ke jendela-jendela pesawat. Di sebelah kiri saya, gelap. Tidak bisa melihat apa-apa. Tetapi di sebelah kanan, ada seperti cahaya merah di langitnya. Saya cukup yakin itu cahaya matahari, yang membuat saya berpikir waktu itu waktu subuh, yang artinya saya harus Sholat subuh. Sholat di pesawat tidak terlalu buruk, sama seperti Sholat-sholat ‘duduk’ lainnya, yang biasanya saya lakukan kalau di perjalanan di mobil.

Saya coba menunggu beberapa saat, menunggu apakah cahaya merahnya akan membesar, dan semakin muda warnanya, yang akan membuat saya yakin untuk Sholat. Saya menunggu, tapi cahaya merahnya tidak bergerak. Apakah itu memang cahaya matahari atau bukan? Tapi ah sudahlah, Sholat saja. Sesaat kemudian, para pramugari memberikan sarapan. Dan sesudah sarapan itu, barulah mataharinya terlihat meyakinkan untuk Sholat. Ah, saya sudah pokoknya.

Tidak lama sesudah waktu subuh dating, pesawat mendarat di bandara yang katanya sangat besar. Welcome to Frankfurt, city of sausage