Rasanya senang, bahagia, bangga, lega, dan pegel. Sampai di bandara Dulles International. Sepertinya semua yang saya dan teman-teman tunggu-tunggu selama hamper dua tahun terkabulkan juga.
Turun pesawat, rombongan menuju ke tempat pengambilan bagasi. Tugas terakhir sebelum sampai di tempat penginapan selama 3 hari di Washington D.C. untuk mengikuti orientasi bersama anak-anak seprogram dari Negara-negara lain.
Terdengar simple, dan mudah sekali bukan. Hanya tinggal jalan beberapa langkah, yah, mungkin beberapa security check, not bad, dan kembali mengangkat koper yang berat itu ke bus, dan bisa santai lagi sampai akhirnya sampai di tempat penginapan. Saya sudah membayangkan seperti itu. Kedua kaki saya bukan main pegalnya.
Tidak tahu juga kenapa bisa pegal seperti ini. Padahal selama penerbangan dari Frankfurt ke Washington saya duduk manis saja. Mungkin, karena kursinya cukup sempit. Mungkin. Satu lagi, karena sebelum masuk pesawat saya sempat berdiri cukup lama untuk mengantri check in pesawat United Airlines yang bukan main dinginnya. Mungkin juga karena dingin, tapi itu lebih kepada hidung saya yang mulai ‘berlari’. Sepertinya waktu itu saya masih punya beberapa tissue bungkus untuk menyelamatkannya.
Sejak saat itulah saya mulai merasa sangat tidak enak, dan sangat tidak enak juga perasaan saya akan hal-hal yang akan terjadi. Tapi, saya tidak terlalu memikirkannya. Saya bawa senang saja dengan teman-teman saya.
Saya dan teman-teman masuk ke bagian “Non US Citizen” untuk melakukan security check up. Sepertinya mulai saat itu saya mulai merasa tidak enak.
Antriannya bukan main panjangnya! Dan berjalannya juga bukan cepat. Dan kaki saya semakin pegal, seperti membunuh saya dari dalam. Antrian itu dipenuhi dengan saya dan teman-teman yang berseragam kaos kuning dengan tulisan “Yes, I’m from INDONESIA”. Kami juga menemukan beberapa orang yang terlihat seperti saya dan teman-teman dengan kaos hijau dan tulisan “Thailand”. Mereka pasti yang dari Thailand. Sempat berkenalan dengan beberapa dari mereka. Mencoba terlihat dan bersikap ramah kepada orang asing, seperti yang sering dibangga-banggakan rakyat Negaraku.
Akhirnya saya sampai juga di counter untuk diperiksa petugasnya. Saya benar-benar capek sekali waktu itu. Saya sudah tidak bisa menyandan tas ransel saya, sepanjang antrian hanya saya dorong-dorong dengan kaki saya. Walaupun saya sempat beberapa kali menyandangnya kembali. Saya pengen sekali untuk duduk! Tidak tahu waktu itu apakah akan membuat kaki saya terasa nyaman, tapi setidaknya itu lebih baik dari berdiri dan menunggu.
Akhirnya tiba giliran saya. petugas bandaranya memeriksa passport, dan beberapa tiket pesawat saya. Dia menandakan sesuatu di tiketnya, dan bukannya selanjutnya menyuruh saya keluar dan menuju tempat pengambilan koper, dia menyuruh saya untuk pergi ke suatu ruangan untuk menunggu lebih lama lagi! Saya pergi kesana, dan hampir semua teman-teman saya yang laki-laki sudah berada disana. Ada juga beberapa teman saya yang perempuan. Orang-orang lain yang menunggu di ruang itu bisa dipisahkan menurut fisiknya. Mereka terlihat seperti orang Arab, India, Pakistan, dan sekitarnya. Saya yakin, ini masih berhubungan dengan terorisme.
Saya tidak tahu, apakah memang sudah menjadi tradisi baru, setiap warga Negara muslim dating berkunjung ke Amerika, akan dipisahkan seperti ini atau tidak. Sejauh ini yang saya lihat ada di ruang tunggu itu memang terlihat seperti orang muslim. Beberapa wanita yang ada juga mengenakan jilbab yang besar, panjang, dan berwarna hitam. Mereka terlihat biasa saja. Mungkin sudah sering pulang pergi ke Amerika, jadi sudah sering pula diperlakukan seperti ini, dianggap teroris. Saya pikir waktu itu, mungkin memang tidak terlalu buruk juga. Saya menunggu saja dengan sabar. Teman-teman saya yang lain juga disana, jadi setidaknya saya tidak merasa sendiri. Dan satu lagi, setidaknya saya bisa duduk di ruang tunggu itu. Meluruskan kaki, dan saya tidak sangka bisa tertidur di ruangan itu.
Saya terbangun. Sepertinya karena pendingin ruangan yang disetel sangat rendah. Hidung saya sepertinya semakin parah, semakin jauh dia ‘berlari’. Berapa teman saya sudah tidak ada, sepertinya mereka sudah bisa keluar. Sebelum saya tertidur memang sudah ada juga yang keluar. Orang-orang lainnya juga sudah semakin berkurang. Tapi ada juga beberapa yang baru datang.
Dingin sekali! Apakah sepanas itu keadaan diluar, sampai mereka menyetel pendinginnya sampai begitu rendah. Saya semakin merasa tidak enak. Dan waktu itu, saya merasa duduk bukanlah solusi menghilangkan cape, waktu itu saya seperti bosan untuk duduk.
Ketika akhirnya jumlah orang di ruang tunggu itu semakin sedikit, kurang dari sepuluh, dan beberapa adalah teman-teman saya, akhirnya petugasnya memanggil kami semua untuk akhirnya diperiksa untuk segera keluar. Saya memperhatikan, petugasnya sepertinya orang muslim juga. Dilihat dari fisiknya yang berhidung mancung dan berambut keriting, dan juga dari logat berbicaranya yang sangat ‘tidak Amerika’.
Kenapa mereka mau melakukan itu? Seperti, orang yang sama sekali tidak tahu tentang keluargamu dan hanya menaruh prasangka buruk kepadanya, menyuruhmu untuk menyerang keluargamu sendiri. Kata lain: diperalat. Apa mereka tidak bisa sedikit membela, untuk tidak melakukan pemisahan antara warga dari Negara muslim atau non-muslim. Atau mereka sudah benar-benar menjadi orang lain, dan menganggap saudara-saudara mereka dari Negara lain sebagai teroris.
Giliran saya untuk diperiksa kedua kalinya. Kali ini lebih detil! Petugasnya sampai menanyakan tentang alamat saya. saya pikir waktu itu, apakah mereka akan mengirim orang untuk memeriksa ke rumah saya tentang ‘kebenaran’ saya? Terdengar gila, tetapi memang sebetulnya untuk apa mereka memerlukan alamat?
Petugasnya juga memberikan sebuah buku (bisa disebut buku), tentang peraturan immigrant yang datang ke Amerika. Dia menandakan sebuah paragraph yang mendeskripsikan keadaan saya dan teman-teman, dan beberapa orang lainnya. Dia bilang, saya harus diperiksa seperti itu lagi waktu mau meninggalkan Amerika: setahun lagi!
Counter disebelah saya, ternyata petugasnya orang muslim! Saya bisa tahu kali ini, karena dia berkata “Assalamualaikum” kepada orang yang akan dia periksa yang juga membalas salamnya dengan “Assalamualaikum”. Saya pikir, mungkin tidak semua muslim menjawab salam dengan “Waalaikumsalam”. Tidak tahu juga.
Akhirnya sang petugas memperbolehkan saya untuk pergi ke tempat pengambilan koper. Betapa senangnya waktu itu, akhirnya saya bisa meninggalkan tempat ini, dan tidak perlu memikirkan apa-apa lagi yang berhubungan dengan pemeriksaan itu sampai tahun depan ketika saya akan pulang.
Saya mendapatkan koper saya. Koper saya dan teman-teman sempat dijaga oleh Jim, orang Amerika yang menemani kami dari awal perjalanan kami. Baik sekali dia. Dia bilang, kalau tidak dijaga mungkin kopernya akan dibongkar oleh petugas-petugasnya. Untunglah. Tapi sialnya, saya tidak bisa menggunakan penarik kopernya karena macet. Tidak peduli, saya dan teman saya yang selesai bersamaan keluar dari tempat itu.
Kami disambut oleh beberapa panitia YES (Youth Exchange and Study) yang akan bekerja selama kami tinggal di Washington. Ada panitia yang dari Indonesia, lega juga masih bisa berbahasa Indonesia, walaupun sebenarnya memang bisa sewaktu berbicara dengan teman-teman. Saya dan teman-teman yang keluar lebih dulu menunggu beberapa saat lagi untuk menunggu teman yang belum selesai diperiksa. Hanya sedikit teman-teman yang tinggal di bandara. Kebanyakan sudah pergi ke tempat penginapan.
Ketika teman-teman saya sudah selesai diperiksa semua, saya dan teman-teman dan beberapa panitia yang menunggu kami pergi ke tempat penginapan dengan bus. Saya capek sekali, sampai lupa kalau sekarang kendaraan sudah mengemudi di jalur yang berbeda.