Waktu itu semua anak-anak yang sakit ngumpul di ruangan terpisah, yang emang di set untuk jadi ruang medis, yang amat sangat darurat. Darurat karena itu memang sebenernya hanya untuk sementara. Tidak ada yang benar2 mengerti yg namanya kesehatan, kedokteran, dan tubuh manusia di ruangan itu. Satu-satunya yang anak-anak dan termasuk saya kira sebagai ‘dokter’ memperlakukan kami dengan gila. Salah satu teman saya yang suhu badannya sempat tinggi disuruh untuk mengepit satu kantong besar berisi es di masing-masing ketiaknya, untuk menurunkan temperature. Sepertinya mereka berpikir the whole human body would act the same as head if we got fever. Saya disuruh untuk selalu minum air dingin, karena suhu badan saya waktu itu sempat di atas 100 derajat Fahrenheit.
Malam itu, isi ruangan sebagian besar adalah teman-teman saya dari Indonesia. Ada beberapa orang dari Afrika, beberapa yang lain dari Asia. Itu harusnya malam terakhir dari saya, teman-teman, dan anak-anak dari Negara lain untuk stay di Washington DC, dan selanjutnya untuk pergi ke state masing-masing pada pagi harinya. Kecuali jika mereka memang akan tinggal di Washington DC untuk setahun kedepannya.
Itu hari ke dua saya dan teman-teman sudah sakit, dan akibatnya saya dan teman-teman dipisahkan dari ‘dunia’, tidak bisa ketemu teman-teman yang lain, tidak bisa mengikutin kegiatan yang dijadwalkan, tidak bisa tidur di kamar yang ditentukan dari awal, dan yang paling utama adalah tidak bisa pergi ke state masing-masing dan keluarga masing-masing sebelom sembuh. Atau setidaknya, sampai hari yang ditentukan.
Malam itu, sebagian besar dari anak-anak yang sakit sebenarnya udah bisa dikatakan sembuh. Atau sebenarnya ada yang tidak sakit sama sekali. Ada teman saya yang sebenarnya ‘dituduh’ sakit oleh para paramedis darurat yang tidak terlalu cerdas dan paranoid itu. Ada beberapa yang memang sakit, tapi malam itu sudah sembuh, dan tetap tidak diperbolehkan untuk pergi ke state-nya. Ada juga yang sakit, karena tidak suka makanan-makanan yang disediakan. Saya mengakui kalau makanan pada waktu itu memang menjadi isu. Mostly anak-anak berasal dari Asia dan Afrika, yang makanannya sungguh jauh berbeda dari pada yang dimakan masyarakat Amerika.
Sarapan yang saya pilih pada hari pertama adalah sosis, dan beberapa kentang goreng berbentuk bola tidak sempurna. Para panitia sudah mengantisipasi dengan mengganti sosisnya dengan sosis yang terbuat dari daging ayam kalkun. Bagi saya itu tidak terlalu buruk. Yang saya masalahkan hanya kurangnya rasa yang ada di makanan. Bisa dikatakan hambar. Tapi, apa kita tidak akan makan makanan yang tidak sesuai dengan masakan ibu di rumah? Lagi pula, itu baru hari pertama, tidak tahu apa yang akan terjadi 6 bulan lagi. Ada seorang anak diantara teman-teman saya itu, yang hanya mau makan buah. Itu karena buah bagi dia terasa sama dimanapun itu. Apakah menjadi pelajar pertukaran sama dengan menjadi pemakan buah?
Ada beberapa teman-teman yang tidak sakit yang menjenguk kami di ruangan kami yang terpisah dan hampir tersembunyi. Mostly mereka menemukannya karena ruangan itu dekat atau satu gedung dengan kamar mereka. Banyak yang merasa sedih karena teman-teman mereka tidak bisa pergi bersama mereka pada hari yang telah ditentukan sebelumnya. Ada juga yang mengasihani saya. saya yang terlihat paling sakit, dan saya rasa memang saya yang paling sakit. beberapa teman yang saya rasa tidak dekat dengan saya pun datang menjenguk saya. Sebaliknya, yang saya rasa dekat tidak muncul waktu itu. Kalau berpikiran baik, mereka bisa saja lagi sibuk atau ada kegiatan lain.
Pada satu malam yang lain, salah satu dari panitia medis darurat sedang berulang tahun. Beberapa anak menyiapkan surprise kecil-kecilan, mungkin sebagai ungkapan balas budi mereka karena sudah mengurus mereka dengan baik. Beberapa ada juga yang memberinya hadiah, beberapa souvenir asli Indonesia. Dia tampak senang sekali, apakah itu pertama kalinya dia diberikan kejutan seperti itu atau dia memang orang yang sangat berterimakasih. Satu yang pasti, dua teman saya masing-masing memberikan tas bercorak batik, dan satu lagi memberikan semacam scarf bercorak batik pula, dan panitia itu mengenakannya di hari berikutnya.