8 Agustus 2010. Turun pesawat, pagi buta. Sekitar jam 5 waktu Frankfurt. Baru kali ini sampai di bandara di waktu yang sepagi ini. Kalau berangkat sepagi ini, sepertinya sudah beberapa kali. Tapi, walaupun pagi-pagi seperti ini, aktifitas di bandara tetap berjalan. Bukan maksud mau bilang ‘tidak ada orang yang melaksanakan Sholat Subuh berjamaah di masjid dan dilanjutkan dengan tadarus’, tapi ini bandara Internasional. Saya dan teman-teman contohnya, tidak mungkin bandara ini mengatakan, karena masih pagi jadi mereka belum buka dan kami tidak bisa mendarat. Tidak tahu juga, apakah yang seperti ini ada di seluruh dunia. Ya, saya belum pernah mendarat di bandara manapun di Indonesia pada waktu sepagi itu.
Mendarat. Dengan tas yang berat di bahu, beberapa kali meregangkan badan. Cukup pegal, semalaman duduk di pesawat, yang dingin, yang tidak bisa bergerak banyak. Dan saya pun tidak pergi ke toilet selama perjalanan di pesawat. Entah kenapa itu membuat saya meresa merepotkan orang-orang di sekitar saya.
Dan, ternyata sekali lagi langit di eropa tidak berbeda dengan di Indonesia, atau Singapura, walaupun saya hanya sempat melihat malam di Singapura. Beberapa orang yang sudah sering ke luar negeri bilang, langit di luar negeri itu lebih cerah, lebih tidak berpolusi, lebih putih awannya dibanding langit Indonesia. Tapi, sejauh yang dilihat di Frankfurt, sepertinya tidak ada bedanya. Sekali lagi, ini pertama kali saya ke luar negeri, saya menganggap hal seperti ini wajar.
Turun dari pesawat, jalan sedikit untuk bisa dekat ke terminal keberangkatan selanjutnya. Jalannya cukup jauh, karena sekali lagi, bandara ini besar sekali. Capek juga walaupun tidak narik-narik koper besar saya. Sekali kami naik (sepertinya) kereta, untuk nyebrang ke terminalnya.
Saya dan teman-teman membuat antrian panjang ketika sampai di terminal tujuan untuk security check up. Antrian 103 anak Indonesia yang bersemangat. Antriannya memang panjang sekali, dan tetap berjalan lambat walaupun gerbang security nya sudah dibuka beberapa. Kami harus melepaskan jaket, tas, dan alat-alat elektronik, sepertinya itu yang membuat lama. Singkat cerita, akhirnya sampai di terminal tujuan, dan sedikit lagi berjalan ke pintu gerbang keberangkatannya. Dan itulah tempat saya dan teman-teman untuk beberapa jam kemudian.
Dari awal berangkat dari bandara Soekarno-Hatta, saya dan teman-teman dibagi dalam 10 grup, jadi lebih mudah untuk berkumpul dan berjalan bersama. Saya dapat grup 10, tidak ada buruknya, hanya saja menjadi buntut. Tapi benar, saya tetap saja enjoy, toh jadi grup terakhir tidak membuat saya tidak sampai di tempat tujuan saya, dimana pun itu.
Sampai di bandara pagi-pagi. Cukup lapar, saya dan beberapa teman memutuskan untuk mencari tempat makan. Saya pikir, ini akan menjadi pertama kali saya membelanjakan dollar, ataupun mungkin saya harus menukarkan ke Euro terlebih dahulu. Ada beberapa alat pencari took-toko di bandara, termasuk tempat makan. Untuk berjaga-jaga (makanan halal), kami mencari McDonald’s, tapi ternyata tempatnya jauh, di area luar bandara. Jadi saya dan teman-teman melupakan itu.
Ada beberapa kios yang menjual kue-kue, roti, dan minuman di tengah-tengah lorong terminal. Saya putuskan waktu itu untuk beli dari situ saja. Beberapa alumni mengatakan, untuk jangan men-kurs segala sesuatu yang kita akan beli, atau kita tidak akan beli apa-apa. Jadi berarti, kita hanya harus memperhatikan uang di dompet saja. Benar sekali, saya kurang lebih mengeluarkan Rp 100.00,00 untuk turkey sandwich dan sebotol coca cola. Saya memilih turkey, karena pilihan lainnya (kalau tidak salah) adalah bacon, dan coca cola, karena saya pikir tidak ada kandungan ‘aneh’ dalam coca cola, setidaknya itu yang saya percaya. Oh, dan untungnya kios nya menerima dollar, jadi saya tidak perlu repot-repot menukarkan uang segala. Cukup kenyang, sampai masuk ke pesawat, saya tidak membeli makanan lagi, selain karena ingin menyimpan uang.
Selain makan, bandara itu jadi tempat istirahat saya dan teman-teman. Pilihannya adalah jalan-jalan melihat-lihat terminal, shopping souvenir (tidak tahu untuk siapa), minum dari fountain, foto-foto, tidur, ada juga yang memakai computer umum hanya untuk melihat email atau facebook, atau bahkan twitter walau harus bayar jauh lebih mahal, ada juga yang menelpon teman, keluarga, pacar.
Saya masih membawa handphone saya, dan masih aktif sampai saat itu. Beberapa kali masih sempat mengirim pesan singkat sekedar untuk memberi kabar keluarga saya. Sisa pulsa saya masih cukup banyak, sampai ada orang tua teman saya yang menelpon ke handphone saya, hanya untuk mendengar suara anak bayi manisnya, dan membuat sisa pulsa saya jauh terkuras yang disebabkan oleh roaming international. Tidak aneh memang untuk menanyakan kabar anak manis tercinta nya yang sedang ada di negeri orang. Tapi istilah ‘roaming’ sepertinya belum bisa masuk kedalam perbendaharaan kata nya.
Kembali, saya dan teman-teman harus mengantri, saatnya untuk meninggalkan Kota Sosis, sebuah nama yang saya berikan karena nama kota ini sering muncul di kemasan-kemasan sosis. Walaupun hanya sekitar 5 jam, tapi cukup menikmati juga. Kali ini saya dan teman-teman masuk ke pesawat kedua, dan untuk penerbangan ketiga. Penerbangan yang sudah saya dan teman-teman tunggu, yang sudah saya dan teman-teman usahakan, dan banyak yang terkorbankan selama lebih dari satu tahun belakangan. Penerbangan penuh penantian, yang akhirnya pada waktu itu akan segera terwujudkan. Penerbangan yang membuat saya dan teman-teman bisa mengatakan “kita pasti berangkat”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar