Minggu, 10 Oktober 2010

August 2010: The Flight to Sausage City

Sabtu, tanggal 7. Sekitar jam 6 magrib , menuju jam 7 malam. Hari udah gelap, kayak langit Jakarta biasanya. Saya udah duduk di kursi di pesawat. Agak kurang suka karena posisinya ga di deket jendela atau setidaknya di deket lorongnya. Ini tepat sekali di tengah, diapit teman-teman seperjuangan. Tidak apalah, tujuan pertama yaitu Singapura, which is 2 hours trip. Setidaknya masih ada waktu ‘istirahat’ sebentar.

Hari udah gelap, dan saya udah capek. Walaupun niat dalam hati untuk ga tidur selama perjalanan, tapi ternyata kalah juga. Tidak ingat banyak, apakah saya sempat makan malam, tapi yang pasti saya tertidur dan terbangun pas semua orang udah siap-siap mau keluar pesawat. Ternyata udah sampe Singapura.

Ini pertama kali saya sampe di luar negeri. Saya lihat langitnya, ternyata gelap. Saya coba bernafas dalam-dalam, ternyata masih bisa. Saya coba berjalan, ternyata masih bisa. Tidak ada yang beda dengan luar negeri. Sama saja dengan Ibu Pertiwi, tidak ada yang beda. Tapi kemudian saya menemukan perbedaan yang sangat kontras.

Saya dan teman-teman keluar pesawat, menuju ruang tunggu berikutnya. Kami hanya transit sebentar di Singapura, padahal saya ingin jalan-jalan melihat-lihat Changi International Airport yang kata orang-orang bandaranya sangat bagus. Tidak apalah, saya yakin masih ada kesempatan lain untuk berkunjung kembali di tahun-tahun berikutnya. Lagi pula, berjalan-jalan beresiko untuk menghabiskan uang. Saya tidak punya Dollar Singapura, tapi bisa saja saya belanjakan Dollar US saya, atau malah beberapa lembar Rupiah yang saya tidak tukar karena tidak akan tertukar dengan uang yang besar, (atau hanya saya yang tidak akan puas) jadi baik juga untuk tetap mengantri masuk ke ruang tunggu, dan berfoto2 sedikit bersama teman-teman.

Sambil mengantri, saya sempet masuk ke Toilet. Tidak bagus bukan untuk menahan untuk buang air? Saya waktu itu masih melihat-lihat keadaan sekitar, mencari apa yang sangat berbeda dengan yang ada di Tanah Air. Saya menemukan beberapa Water Fountain, tapi itu tidak jauh berbeda. Beberapa tempat saya yakin sudah punya Water Fountain seperti itu. Dan tentang toiletnya. Pispotnya tidak jauh berbeda, hanya saja menggunaka sensor untuk flush nya, beberapa tempat di Jakarta sudah menggunakan itu bukan? Yang cukup berbeda adalah ada pispot yang sama, tetapi ukurannya jauh lebih kecil dengan posisi yang lebih rendah pula, dilengkapi dengan beberapa tulisan (mungkin) mandarin dan symbol yang mengartikan sesuatu, tetap saja tidak bisa saya mengerti.

Ini dia yang beda. Waktu mau keluar toilet, saya coba untuk melihat ke bilik untuk buang air besar. Saya seharusnya sudah siap dan tidak asing lagi untuk ini. Tapi mulai di Singapura, mereka sudah menggunakan tisu untuk membersihkan.

Saya coba mengaitkan, antara alat yang dipakai untuk membersihkan itu, dengan masyarakat Negara nya. Saya sempat berpikir, apakah karena Indonesia adalah Negara dengan mayoritas Muslim, yang tentunya menggunakan air dengan banyak di kamar mandi, jadi yang digunakan adalah air. Dan juga Singapura, yang (saya rasa) bukan Negara Muslim, jadi tidak menggunakan air, tetapi tisu. Saya juga coba mengaitkan ini dengan modernitas. Tapi berarti Indonesia bukanlah Negara yang modern? Tetapi, buat apa terlalu dipikirkan, cepat atau lambat saya juga melakukannya dengan tisu.

Beberapa lama di ruang tunggu, saya dan teman-teman kembali masuk ke pesawat yang sama, LH779, dan juga kursi yang sama. Saya sudah tidak terlalu memikirkan lagi tentang tempat duduk. Dua jam pertama, saya cukup nyaman duduk di tengah. Kalau di jendela, saya tidak punya sesuatu untuk dilihat, karena hari sudah malam.

Pesawat menyediakan selimut, yang saya piker saya perlukan, dan headset, untuk mendengarkan beberapa channel radio(?) yang disediakan pesawat. Saya lebih memilih untuk mendengarkan iPod baru saya daripada channel-channel itu, karena beberapa beberapa channel nya memutar lagu-lagu (untuk orang) tua, dan lagu-lagu pop/rock nya juga tidak terlalu bagus. Dan lagi, beberapa kali saya (dan kebanyakan) saya tertidur.

Pesawat menyediakan beberapa menu makanan yang enak, dan setiap kali makan, biasanya ada pilihan. Saya selalu memilih ayam, atau yang ‘tidak daging’, takut apabila masakannya mengandung daging haram. Walaupun menu ayam atau yang lainnya belum terlepas dari sesuatu yang haram dalam Islam, seperti alcohol dan yang lainnya. Tapi, tidak tahu semuanya terkadang baik. Kalau saya tahu apa kandungan makanannya secara detil, mungkin tidak akan saya makan dan saya kelaparan selama kurang lebih 7 jam.

Saya sempat tertidur cukup lama di pesawat sebelum akhirnya (tentunya) terbangun. Saya tidak tahu jam berapa waktu itu. Tetapi saya cukup yakin waktu itu adalah sekitar waktu subuh. Saya coba melihat ke jendela-jendela pesawat. Di sebelah kiri saya, gelap. Tidak bisa melihat apa-apa. Tetapi di sebelah kanan, ada seperti cahaya merah di langitnya. Saya cukup yakin itu cahaya matahari, yang membuat saya berpikir waktu itu waktu subuh, yang artinya saya harus Sholat subuh. Sholat di pesawat tidak terlalu buruk, sama seperti Sholat-sholat ‘duduk’ lainnya, yang biasanya saya lakukan kalau di perjalanan di mobil.

Saya coba menunggu beberapa saat, menunggu apakah cahaya merahnya akan membesar, dan semakin muda warnanya, yang akan membuat saya yakin untuk Sholat. Saya menunggu, tapi cahaya merahnya tidak bergerak. Apakah itu memang cahaya matahari atau bukan? Tapi ah sudahlah, Sholat saja. Sesaat kemudian, para pramugari memberikan sarapan. Dan sesudah sarapan itu, barulah mataharinya terlihat meyakinkan untuk Sholat. Ah, saya sudah pokoknya.

Tidak lama sesudah waktu subuh dating, pesawat mendarat di bandara yang katanya sangat besar. Welcome to Frankfurt, city of sausage

1 komentar: